Anak Sering Mimisan? Kenali Penyebab dan Kapan Harus ke Dokter

Apakah anak sering mimisan berbahaya? Tidak selalu. Sebagian besar mimisan pada anak terjadi karena pembuluh darah di dalam hidung cukup sensitif sehingga mudah pecah akibat udara kering, kebiasaan mengorek hidung, pilek, alergi, atau benturan ringan. Namun, jika mimisan terjadi berulang, sulit berhenti, atau disertai gejala lain, kondisi ini perlu diperiksakan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Mengapa Anak Lebih Mudah Mengalami Mimisan?
Mimisan atau epistaksis cukup sering terjadi pada anak. Bagian depan rongga hidung memiliki banyak pembuluh darah kecil yang letaknya dekat dengan permukaan. Karena itu, pembuluh darah tersebut lebih mudah mengalami iritasi atau pecah.
Pembuluh Darah di Hidung Masih Sangat Sensitif
Bagian depan hidung memiliki jaringan pembuluh darah yang cukup banyak. Pada anak, area ini mudah mengalami iritasi, terutama jika sering disentuh, digosok, atau terkena udara yang membuat hidung kering.
Sebagian Besar Mimisan Berasal dari Bagian Depan Hidung
Sebagian besar mimisan pada anak berasal dari bagian depan rongga hidung atau disebut anterior epistaxis. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan dapat berhenti dengan pertolongan pertama yang tepat.
7 Penyebab Anak Sering Mimisan
Ada beberapa kondisi yang dapat membuat anak lebih mudah mengalami mimisan, mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga kondisi medis tertentu.
1. Kebiasaan Mengorek Hidung
Mengorek hidung merupakan salah satu penyebab mimisan yang paling umum pada anak. Gesekan kuku dapat melukai permukaan bagian dalam hidung dan membuat pembuluh darah kecil pecah.
2. Udara Kering
Ruangan ber-AC atau kondisi udara yang terlalu kering dapat membuat lapisan dalam hidung menjadi kering dan mudah mengalami iritasi. Akibatnya, pembuluh darah lebih mudah pecah dan menyebabkan perdarahan.
3. Benturan pada Hidung
Anak yang aktif bermain dapat mengalami benturan pada hidung, misalnya saat terjatuh, terkena bola, atau terbentur benda lain. Bahkan benturan ringan dapat memicu mimisan.
4. Flu, Pilek, atau Alergi
Flu dan alergi dapat menyebabkan hidung mengalami peradangan dan iritasi. Anak juga cenderung lebih sering menggosok atau membuang ingus ketika hidung terasa gatal atau tersumbat sehingga risiko mimisan meningkat.
5. Kebiasaan Menghembuskan Ingus Terlalu Kuat
Menghembuskan ingus dengan tekanan terlalu kuat dapat membuat pembuluh darah kecil di dalam hidung pecah, terutama ketika lapisan hidung sedang mengalami iritasi.
6. Penggunaan Obat Semprot Hidung Tertentu
Penggunaan obat semprot hidung secara berlebihan atau tidak sesuai aturan dapat menyebabkan hidung lebih kering atau mengalami iritasi jika digunakan tidak sesuai petunjuk. Karena itu, sebaiknya penggunaan obat semprot pada anak mengikuti anjuran dokter.
7. Gangguan Pembekuan Darah
Meski jarang, mimisan berulang dapat berkaitan dengan gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia atau penyakit von Willebrand. Kondisi ini biasanya tidak hanya menyebabkan mimisan, tetapi juga dapat disertai mudah memar atau perdarahan di bagian tubuh lain.
Cara Mengatasi Mimisan pada Anak
Saat anak mimisan, orang tua mungkin ikut panik. Padahal, langkah pertama yang tepat justru dapat membantu menghentikan perdarahan.
1. Tetap Tenang dan Posisikan Anak dengan Benar
Dudukkan anak dalam posisi tegak dan minta ia sedikit condong ke depan.
Hindari meminta anak berbaring atau menengadahkan kepala karena darah dapat mengalir ke tenggorokan dan tertelan.
2. Tekan Bagian Lunak Hidung
Jepit bagian hidung yang lunak, tepat di bawah tulang hidung, menggunakan ibu jari dan telunjuk.
Pertahankan tekanan selama sekitar 10 menit tanpa melepasnya untuk mengecek apakah darah sudah berhenti. Jika masih berdarah, tekanan dapat dilanjutkan selama 10 menit berikutnya.
3. Kompres Dingin Bila Perlu
Letakkan kompres es atau kain dingin di area pangkal hidung untuk membantu vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah. Namun, yang paling penting untuk menghentikan mimisan adalah memberikan tekanan yang cukup pada bagian lunak hidung.
4. Hindari Kebiasaan yang Memicu Mimisan Kembali
Setelah darah berhenti, ajarkan anak untuk:
Tidak mengorek hidung.
Tidak menghembuskan atau meniup hidung terlalu kuat.
Tidak menggosok bagian dalam hidung.
Menghindari aktivitas berat untuk sementara.
Jika udara di rumah terlalu kering, penggunaan humidifier dapat membantu menjaga kelembaban udara.
Tanda Mimisan yang Perlu Diwaspadai
Mimisan sesekali biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, Sahabat Darmo sebaiknya lebih waspada dan segera konsultasikan kondisi anak kepada dokter jika anak mengalami:
Mimisan yang sering berulang tanpa penyebab yang jelas.
Darah sulit berhenti meski hidung sudah ditekan dengan benar selama 10ā20 menit.
Darah keluar dalam jumlah banyak atau anak terlihat kehilangan banyak darah.
Anak tampak pucat, lemas, berkeringat, atau pusing.
Mimisan disertai mudah memar atau perdarahan dari bagian tubuh lain.
Mimisan terjadi setelah benturan keras pada kepala atau wajah.
Anak mengalami mimisan berulang sekaligus hidung tersumbat terus-menerus.
Apakah Mimisan pada Anak Bisa Dicegah?
Tidak semua mimisan dapat dicegah. Namun, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko mimisan berulang.
1. Jaga Kelembaban Rongga Hidung
Jika udara di rumah terasa kering, humidifier dapat digunakan untuk membantu menjaga kelembapan. Penggunaan semprotan saline atau pelembap hidung juga dapat dipertimbangkan sesuai anjuran dokter.
2. Potong Kuku Anak Secara Rutin
Kuku yang pendek dapat mengurangi risiko luka ketika anak tanpa sengaja menyentuh atau mengorek bagian dalam hidung.
3. Ajarkan Anak Tidak Mengorek Hidung
Alih-alih hanya melarang, jelaskan kepada anak bahwa mengorek hidung dapat membuat bagian dalam hidung terluka dan berdarah.
4. Cukupi Kebutuhan Cairan
Pastikan anak mendapatkan cukup cairan setiap hari. Asupan cairan yang cukup membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi dan mendukung kelembaban selaput lendir.
5. Tangani Alergi atau Flu dengan Baik
Jika anak sering mengalami alergi, pilek, atau hidung tersumbat, konsultasikan dengan dokter agar keluhannya dapat ditangani dengan tepat. Mengurangi iritasi pada hidung dapat membantu menurunkan risiko mimisan berulang.
Jika perdarahan sangat banyak, anak mengalami penurunan kesadaran, atau perdarahan tidak dapat dihentikan, segera cari pertolongan medis.
Kesimpulan
Mimisan pada anak cukup umum dan sebagian besar tidak berbahaya. Kebiasaan mengorek hidung, udara kering, pilek, alergi, serta benturan ringan termasuk penyebab yang sering terjadi.
Namun, mimisan yang terus berulang, sulit berhenti, keluar dalam jumlah banyak, atau disertai mudah memar dan perdarahan lainnya perlu diperiksa lebih lanjut. Dengan mengetahui cara memberikan pertolongan pertama dan mengenali tanda bahayanya, Anda dapat membantu anak tetap tenang sekaligus mendapatkan penanganan yang tepat ketika diperlukan.
Jika anak anda sering mengalami mimisan segera konsultasikan dengan dokter anak di RS Darmo Surabaya. Hubungi WhatsApp Poliklinik di 0896-3009-8900 atau Klik di siniĀ untuk janji temu.
Referensi :Ā
Nosebleeds in Kids. (2026, August 4). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/nose-bleeds-in-kidsĀ
Kavanagh, K., MD. (2026, February 5). Nosebleeds in kids: Causes, treatment & when to call an ENT. Connecticut Childrenās. https://www.connecticutchildrens.org/growing-healthy/nosebleeds-kids-causes-treatment-when-call-entĀ
Author : dr. Virren Agathis C
.png)

_edited.png)



Komentar