Kenapa Kita Cenderung Kalap Makan Saat Buka Puasa? Waspada Risiko Diabetes dan Kolesterol
- 24 Feb
- 4 menit membaca

Makan berlebihan saat berbuka puasa sering terjadi tanpa disadari setelah menahan lapar dan haus seharian. Porsi makan yang terlalu besar, pilihan makanan tinggi gula dan lemak, serta kebiasaan makan terburu-buru dapat membuat tubuh bekerja terlalu keras dalam waktu singkat.
Jika dilakukan berulang, pola berbuka seperti ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat meningkatkan risiko diabetes dan kolesterol tinggi. Artikel ini akan membahas apa yang dimaksud dengan makan berlebihan saat berbuka puasa, dampaknya bagi tubuh, serta cara berbuka yang lebih aman dan menyehatkan.
Kenapa Kita Terlihat āBalas Dendamā Makan Saat Berbuka Puasa?
Secara fisiologis, tubuh yang berpuasa dalam waktu lama mengalami perubahan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Salah satu hormon utama yang berperan adalah ghrelin, yang sering disebut sebagai hormon lapar. Kadar ghrelin meningkat ketika lambung kosong dan akan mengirim sinyal ke otak bahwa tubuh membutuhkan asupan energi. Akibatnya, rasa lapar terasa jauh lebih kuat menjelang waktu berbuka dibandingkan waktu makan biasa.
Di saat yang sama, tubuh juga berada dalam kondisi defisit energi setelah berjam-jam tidak menerima asupan makanan dan cairan. Ketika makanan akhirnya tersedia, otak secara alami mendorong kita untuk segera mengganti energi yang hilang. Dorongan inilah yang sering muncul sebagai keinginan untuk makan banyak sekaligus.
Fenomena ini sejalan dengan temuan dari beberapa penelitian internasional yang membahas hubungan antara periode puasa dan perilaku binge eatingĀ atau makan berlebihan. Studi longitudinal menunjukkan bahwa puasa dalam durasi panjang dapat memicu perilaku makan impulsif setelahnya.Ā
Inilah yang sering terjadi saat berbuka puasa: rasa lapar yang intens bertemu dengan makanan yang langsung tersedia dalam jumlah banyak. Kombinasi ini membuat dorongan untuk makan cepat dan berlebihan terasa sangat kuat. Jadi, keinginan makan berlebihan saat berbuka bukan semata-mata kebiasaan buruk, melainkan hasil dari respons hormon tubuh terhadap puasa yang dikombinasikan dengan kebutuhan cepat mengganti energi.
Dampak Makan Berlebihan Saat Berbuka bagi Tubuh
Lonjakan Gula Darah
Makanan manis dan karbohidrat sederhana yang dikonsumsi dalam jumlah besar dapat menyebabkan gula darah naik dengan cepat. Setelah lonjakan ini, gula darah bisa turun drastis dan membuat tubuh terasa lemas atau mengantuk.
Beban Kerja Sistem Pencernaan
Lambung yang kosong selama berjam-jam harus bekerja keras mencerna makanan dalam jumlah besar. Akibatnya, dapat muncul keluhan seperti:
Perut begah dan kembung
Mual
Rasa tidak nyaman di ulu hati
Risiko Diabetes Akibat Pola Berbuka Tidak Seimbang
Makan berlebihan saat berbuka puasa dapat mengganggu keseimbangan gula darah, terutama jika terjadi setiap hari selama Ramadan.
Gangguan Pengaturan Gula Darah
Lonjakan gula darah yang berulang dapat membuat tubuh kesulitan mengatur insulin. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko resistensi insulin.
Lebih Berisiko pada Pra-Diabetes
Pada orang dengan pra-diabetes, kebiasaan makan berlebihan saat berbuka dapat mempercepat perkembangan menjadi diabetes tipe 2 jika tidak dikendalikan dengan baik.
Risiko Kolesterol Tinggi yang Sering Diabaikan
Selain gula darah, pola berbuka yang tidak sehat juga berdampak pada kadar kolesterol.
Konsumsi Lemak Berlebih
Makanan seperti gorengan, santan, dan makanan tinggi lemak jenuh sering menjadi pilihan saat berbuka. Jika dikonsumsi berlebihan, jenis makanan ini dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL).
Makan Berlebihan Saat Buka Puasa Dampaknya bagi Jantung dan Pembuluh Darah
Kolesterol tinggi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah, terutama bila disertai faktor risiko lain seperti kurang aktivitas fisik atau riwayat keluarga
Tanda Tubuh Tidak Nyaman Setelah Berbuka
Beberapa tanda berikut dapat muncul ketika tubuh menerima asupan berlebihan saat berbuka:
Perut terasa sangat penuh atau begah
Mengantuk berlebihan setelah makan
Pusing atau lemas
Rasa tidak nyaman di dada atau perut
Jika keluhan ini sering muncul, pola makan berbuka perlu dievaluasi.
Cara Berbuka Puasa yang Lebih Aman dan Sehat,
baca artikel (klik disini)
Berbuka Secara Bertahap
Mulailah berbuka dengan air putih dan makanan ringan dalam porsi kecil. Beri jeda sebelum melanjutkan ke menu utama agar tubuh sempat beradaptasi.
Pilih Menu Seimbang
Pastikan menu berbuka mengandung karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Batasi makanan terlalu manis dan berlemak.
Perhatikan Porsi dan Kecepatan Makan
Makanlah secara perlahan dan secukupnya. Dengarkan sinyal kenyang dari tubuh agar tidak makan berlebihan.
Pada kelompok ini, pengaturan porsi dan jenis makanan saat berbuka menjadi sangat penting.
Beberapa kelompok perlu lebih berhati-hati terhadap pola berbuka:
Orang dengan diabetes atau pra-diabetes
Orang dengan kolesterol tinggi
Orang dengan berat badan berlebih
Orang dengan riwayat penyakit jantung
Kapan Perlu Berkonsultasi ke Dokter?
Segera konsultasikan ke tenaga kesehatan jika Anda:
Mengalami keluhan berulang setelah berbuka
Memiliki riwayat diabetes atau kolesterol tinggi
Mendapatkan hasil pemeriksaan gula darah atau kolesterol yang meningkat selama Ramadan
Konsultasi membantu menyesuaikan pola makan agar puasa tetap aman bagi kesehatan.
Kesimpulan
Makan berlebihan saat berbuka puasa bukan hanya soal rasa kenyang, tetapi dapat berdampak pada kesehatan jika dilakukan terus-menerus. Lonjakan gula darah dan kolesterol yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung. Dengan berbuka secara bertahap, memilih menu seimbang, dan mengatur porsi makan, puasa dapat dijalani dengan lebih aman dan nyaman.
Mulailah memperhatikan porsi dan pilihan makanan saat berbuka puasa untuk menjaga kesehatan Anda. Jika memiliki riwayat diabetes atau kolesterol tinggi, sebaiknya konsultasikan pola makan berbuka dengan ahli gizi di RS Darmo Surabaya, Anda dapat menghubungi WhatsApp Poliklinik di +62 896-3009-8900
Referensi :Ā
Blumberg, J., Hahn, S. L., & Bakke, J. (2023). Intermittent fasting: consider the risks of disordered eating for your patient. Clinical Diabetes and Endocrinology, 9(1), 4. https://doi.org/10.1186/s40842-023-00152-7Ā
Davis, H. A., Smith, Z. R., & Smith, G. T. (2023). Longitudinal transactions between negative urgency and fasting predict binge eating. Appetite, 192, 107113. https://doi.org/10.1016/j.appet.2023.107113Ā
Author :Ā Sabrina Laili, S.Gz
.png)

_edited.png)



Komentar