Mengapa Lansia Mudah Patah Tulang? Kenali Penyebab dan Dampaknya
- Marketing RS Darmo
- 29 Jan
- 3 menit membaca

Pada usia lanjut, lansia lebih mudah mengalami patah tulang akibat penurunan kekuatan dan kepadatan tulang yang terjadi secara alami. Tulang menjadi lebih rapuh sehingga cedera serius dapat terjadi meskipun hanya akibat jatuh ringan.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat mempengaruhi kemandirian, kesehatan mental, dan kualitas hidup lansia. Artikel ini akan membahas penyebab lansia mudah patah tulang, faktor yang meningkatkan risikonya, akibat yang dapat ditimbulkan, serta langkah penting untuk mengurangi risiko tersebut.
Mengapa Lansia Lebih Mudah Mengalami Patah Tulang?
Seiring bertambahnya usia, proses pembentukan tulang melambat, sementara pengeroposan tulang terus berlangsung. Akibatnya, kepadatan mineral tulang menurun dan tulang menjadi lebih rapuh dibandingkan saat usia muda.
Risiko Osteoporosis pada Lansia
Salah satu penyebab utama patah tulang pada lansia adalah osteoporosis pada lansia, yaitu kondisi tulang keropos yang sering berkembang tanpa gejala.Osteoporosis lebih sering terjadi pada lansia, terutama perempuan setelah menopause, dan sering baru terdeteksi setelah terjadi patah tulang.
Kelompok lansia juga memiliki resiko jatuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia lainya. Hal ini dapat disebabkan karena adanya gangguan keseimbangan atau gait ( gaya berjalan ) yang tidak stabil.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Patah Tulang pada Lansia
1. Jenis kelamin
Perempuan yang sudah menopause lebih berisiko mengalami patah tulang karena menurunnya hormon estrogen. Salah satu fungsi hormon estrogen untuk menghambat proses pengeroposan tulang.Ā
2. Status SosioekonomiĀ
Status sosio ekonomi dapat mempengaruhi asupan gizi yang dikonsumsi. Kurangnya kadar kalsium serta Vitamin D dan K pada lansia dapat mempengaruhi kondisi tulang.
3. Penurunan Massa Otot dan Keseimbangan Tubuh
Massa otot berkurang seiring bertambahnya usia sehingga kekuatan dan keseimbangan tubuh menurun.Kondisi ini membuat lansia lebih mudah terjatuh, bahkan saat melakukan aktivitas ringan.
4. Gangguan Penglihatan dan Refleks
Penurunan fungsi penglihatan membuat lansia sulit melihat hambatan di sekitarnya. Refleks tubuh yang melambat juga membuat lansia lebih sulit menahan atau menghindari jatuh.
5. Penyakit Kronis dan Penggunaan Obat
Penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, gangguan saraf, atau stroke dapat mempengaruhi koordinasi dan stabilitas tubuh.Selain itu, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping seperti pusing, lemas, mengantuk. Hal ini dapat meningkatkan risiko jatuh pada lansia.
Akibat Patah Tulang pada Lansia
Penurunan Mobilitas dan Kemandirian
Patah tulang dapat menyebabkan lansia kesulitan berjalan, berdiri, atau melakukan aktivitas sehari-hari.Ā Hal ini meningkatkan risiko ketergantungan pada orang lain.
Komplikasi Kesehatan
Patah tulang, terutama pada area pinggul, dapat memicu komplikasi serius seperti infeksi dan penurunan kondisi fisik akibat imobilisasi berkepanjangan.
Dampak Psikologis
Lansia yang pernah mengalami patah tulang sering merasa takut jatuh kembali.Rasa cemas, penurunan kepercayaan diri, hingga depresi dapat muncul dan mempengaruhi kualitas hidup.
Bagian Tubuh yang Paling Sering Mengalami Patah Tulang pada Lansia
Patah Tulang Pinggul
Patah tulang pinggul merupakan jenis patah tulang paling serius pada lansia.Kondisi ini sering memerlukan operasi, perawatan intensif, dan rehabilitasi jangka panjang.
Patah Tulang Pergelangan Tangan dan Tulang Belakang
Patah tulang pergelangan tangan sering terjadi saat lansia jatuh dan menopang tubuh dengan tangan.Sementara itu, patah tulang belakang dapat menyebabkan nyeri kronis dan perubahan postur tubuh.
Cara Mengurangi Risiko Patah Tulang pada Lansia
Menjaga Kesehatan Tulang
Lansia dianjurkan mengkonsumsi makanan kaya kalsium dan vitamin D sesuai anjuran dokter.Pemeriksaan kepadatan tulang secara berkala juga penting bila direkomendasikan tenaga kesehatan.
Mencegah Risiko Jatuh
Pastikan lingkungan rumah aman, terang, dan bebas dari benda yang mudah tersandung. Gunakan alas kaki yang nyaman dan tidak licin.
Aktivitas Fisik yang Aman
Latihan ringan untuk memperkuat otot dan menjaga keseimbangan dapat membantu mengurangi risiko jatuh.Jenis dan intensitas aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan lansia.
Lansia lebih mudah mengalami patah tulang akibat penurunan kepadatan tulang, melemahnya otot, dan meningkatnya risiko jatuh. Dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga pada kemandirian dan kesehatan mental. Dengan pencegahan yang tepat, pemeriksaan rutin, serta dukungan keluarga, risiko patah tulang pada lansia dapat dikurangi.
Jika orang tua atau lansia di keluarga Anda memiliki risiko jatuh atau riwayat patah tulang, segera lakukan pemeriksaan kesehatan tulang. Konsultasi lebih awal dapat membantu mencegah cedera serius dan menjaga kualitas hidup lansia. Jadwalkan pemeriksaan dengan Rumah Sakit Darmo Surabaya, hubungi WhatsApp Poliklinik di +62 896-3009-8900
Referensi :Ā
Kepel, F.R., Lengkong, A.C. (2020). Fraktur Geriatrik. e-cliniC, 8(2), 203-210. https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/eclinic/article/view/30179/29194
Sumarwoto, T., Hartanto, D., Utomo, P. (2023). Managing fractures in geriatrics: current approaches and update. Indonesian Journal of Madicine and Health,Ā 14(1), 69-81. https://www.researchgate.net/publication/372214109_Managing_fractures_in_geriatrics_Current_approaches_and_update
DĆ©tail. (n.d.-b). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/osteoporosisĀ
Website, N. (2025a, July 30). Osteoporosis. nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/osteoporosis/Ā
Author: dr. Virren Agathis C
.png)

_edited.png)






Komentar