Mengenal Hantavirus: Bahaya Tersembunyi dari Hewan Pengerat
- 6 jam yang lalu
- 4 menit membaca
Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan oleh hewan pengerat, seperti tikus. Penyakit ini menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan global karena gejalanya yang menyerupai flu biasa namun dapat dengan cepat berkembang menjadi kondisi fatal yang menyerang paru-paru atau ginjal (WHO,2026a).

Bagaimana Penularannya?
Memahami cara virus ini berpindah sangat penting. Hantavirus umumnya tidak menular antar manusia. Penularan terjadi dari hewan ke manusia melalui beberapa mekanisme utama:
Inhalasi (Pernapasan): Ini adalah cara penularan yang paling umum. Ketika urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi mengering dan tercampur dengan debu, virus dapat terbang ke udara saat area tersebut dibersihkan (misalnya saat menyapu gudang). Manusia terinfeksi ketika menghirup partikel debu yang terkontaminasi virus tersebut (Maine CDC, 2025).
Kontak Langsung: Penularan dapat terjadi jika seseorang menyentuh urin, kotoran, atau bahan sarang tikus yang mengandung virus, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut mereka sendiri sebelum mencuci tangan (WHO, 2026b).
Makanan yang Terkontaminasi: Mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkena droplet (percikan) urin atau kotoran tikus yang membawa virus dapat memicu infeksi (ECDC, 2026).
Gigitan Tikus: Meski lebih jarang terjadi, luka gigitan dari hewan pengerat yang terinfeksi dapat memasukkan virus langsung ke aliran darah manusia (Iheukwumere et al. 2023).
Penularan paling sering terjadi ketika seseorang menghirup partikel debu yang terkontaminasi virus saat sedang membersihkan area yang menjadi sarang tikus (Maine CDC, 2025).
Gejala Hantavirus
Gejala infeksi hantavirus tidak muncul seketika, melainkan melalui masa inkubasi selama 1 hingga 8 minggu setelah terpapar. Penyakit ini berkembang dalam beberapa fase yang perlu diwaspadai:
1. Gejala Awal (Fase Prodromal)
Pada 3 hingga 5 hari pertama, penderita akan mengalami gejala yang sangat mirip dengan flu berat atau demam berdarah, meliputi:
Demam dan Menggigil: Suhu tubuh meningkat drastis secara tiba-tiba.
Nyeri Otot Hebat: Terutama terasa di bagian tubuh besar seperti paha, punggung, dan bahu.
Kelelahan Ekstrem: Rasa lemas yang tidak biasa meski sudah beristirahat.
Gangguan Pencernaan: Sekitar setengah dari penderita mengalami mual, muntah, diare, atau nyeri perut kram yang sering salah didiagnosis sebagai radang usus buntu (WHO 2026b).
2. Gejala Lanjut (Fase Kritis)
Jika tidak segera ditangani, dalam 4 hingga 10 hari setelah fase awal, kondisi akan memburuk tergantung pada jenis sindrom yang muncul:
Sindrom Paru (Hantavirus Pulmonary Syndrome): Penderita mulai mengalami batuk dan sesak napas yang progresif. Hal ini disebabkan oleh paru yang terisi cairan, sehingga jantung kesulitan memompa oksigen. Pasien sering merasa seperti "ada tali yang melilit kencang di dada" (Iheukwumere et al. 2023).
Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Gejala meliputi sakit kepala yang menusuk, penglihatan kabur, serta munculnya bintik merah (petekie) pada kulit. Dalam tahap parah, penderita mengalami penurunan tekanan darah secara drastis (syok) dan gagal ginjal akut (ECDC,2026).
Langkah Pencegahan
Karena belum ada vaksin khusus, pencegahan difokuskan pada memutus rantai kontak antara manusia dan hewan pengerat. Berikut adalah panduan pencegahan berdasarkan rekomendasi kesehatan global (ECDC 2026; CDC 2024):
Jaga kebersihan lingkungan
Hindari debu: Jangan menyapu terutama pada area yang ada kotoran tikus dalam keadaan kering, karena hal ini akan menerbangkan partikel virus ke udara.
Metode basah: Semprot area terkontaminasi dengan campuran air dan pemutih (bleach) atau disinfektan. Biarkan selama 5 menit hingga benar-benar basah sebelum diseka menggunakan handuk kertas atau kain pel.
Ventilasi maksimal: Sebelum membersihkan ruangan yang lama tertutup (seperti gudang atau loteng), buka semua pintu dan jendela selama minimal 30 menit untuk sirkulasi udara.
2. Pengendalian lingkungan dari hewan pengerat/tikus (Rodent-Proofing)
Tutup Akses: Periksa dinding rumah. Tutup lubang sekecil 6 mm menggunakan bahan yang tidak bisa dikunyah tikus, seperti sabut baja (steel wool) atau adukan semen.
Manajemen Sampah: Buang sampah dapur dalam tempat sampah yang memiliki tutup rapat. Jauhkan tumpukan kayu atau barang bekas dari dinding rumah yang bisa menjadi sarang tikus.
3. Perlindungan diri dan sanitasi
Alat Pelindung Diri (APD): Gunakan sarung tangan karet dan masker (disarankan minimal tipe N95) saat membersihkan area berisiko tinggi.
Penyimpanan Makanan: Pastikan semua bahan pangan disimpan dalam wadah kedap udara berbahan plastik keras, kaca, atau logam.
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Lakukan langkah langkah pencegahan di atas untuk melindungi diri dan orang tersayang dari kemungkinan terpapar virus Hanta. Jika memiliki gejala terkait, segera periksakan diri ke dokter untuk memastikan dan mendapatkan pengobatan sebelum gejala memburuk.
Daftar Pustaka
CDC (2024) Hantavirus: Prevention and Cleaning, [online] tersedia di: https://www.cdc.gov/hantavirus/prevention/index.html
ECDC (2026) Factsheet on Orthohantavirus Infections, [online] tersedia di: https://www.ecdc.europa.eu/en/hantavirus-infection/facts
Guo, Z., et al. (2026) 'Studies on prevalence of Hantavirus in small mammals in Southeast Asia', PLOS Neglected Tropical Diseases, vol. 20, no. 3, [online] tersedia di: https://journals.plos.org/plosntds/article?id=10.1371/journal.pntd.0014075
Iheukwumere, I. H., Iheukwumere, C. M., Unaeze, B. C., Ike, V. E., Nnadozie, H. C., & Onyema, S. O. (2023). Hantaviruses, Transmission Dynamics, Clinical Outcomes, and Preventive Approaches: A Review. IPS Journal of Basic and Clinical Medicine, 2(4), 115–121. https://doi.org/10.54117/ijbcm.v2i4.21 [online] tersedia di: https://journals.ipsintelligentsia.com/medical-sciences/index.php/ijbcm/article/view/21
Kementerian Kesehatan RI (2025) Laporan Kewaspadaan Hantavirus (HFRS) di Indonesia, [online] tersedia di: https://infeksiemerging.kemkes.go.id/document/download/xk29
Maine CDC (2025) Health Advisory: Rare Case of Hantavirus Pulmonary Syndrome in Maine Resident, [online PDF] tersedia di: https://www.maine.gov/dhhs/mecdc/sites/maine.gov.dhhs.mecdc/files/health-professionals/advisories/2025-09-Create%20Health%20Advisories/2025PHADV025Hantavirus.pdf
WHO (2026a) Hantavirus cluster linked to cruise ship travel, Multi-country, [online] tersedia di: https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2026-DON600
WHO (2026b) Fact Sheets: Hantavirus, [online] tersedia di: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hantavirus
Author: dr. Devina Natialiany
.png)

_edited.png)



Komentar