Apa itu Virus Nipah dan dari mana asalnya?
- Marketing RS Darmo
- 11 jam yang lalu
- 3 menit membaca

Virus Nipah (Nipah virus/NiV) adalah virus yang awalnya berasal dari hewan lalu dapat menular ke manusia. Virus ini termasuk keluarga Paramyxoviridae dan dikenal sebagai salah satu virus dengan tingkat kematian tinggi.
Virus Nipah pertama kali ditemukan pada wabah besar di Malaysia pada akhir 1990-an. Sejak itu, kasus berulang terjadi terutama di Bangladesh dan India, dan beberapa kali memicu kekhawatiran global karena potensi wabah besar. Virus ini dapat menyerang sistem pernapasan sekaligus otak, sehingga penyakitnya sering berat dan seringkali berakhir fatal.
Ā
Asal Virus Nipah
Hewan utama pembawa alami virus Nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus (sering disebut flying fox). Kelelawar ini seringkali membawa virus tanpa terlihat sebagai hewan yang sakit.

Dalam banyak kasus, penularan terjadi ketika manusia atau hewan ternak kontak dengan makanan atau lingkungan yang terkontaminasi air liur, urin, atau kotoran kelelawar. Kondisi ini diperparah oleh perubahan lingkungan seperti deforestasi, ekspansi pertanian, dan pembangunan pemukiman dekat habitat satwa liar, yang membuat interaksi manusiaākelelawar semakin sering.
Ā
Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa jalur utama:
Dari kelelawar ke manusia (langsung atau tidak langsung)
Salah satu jalur yang terkenal adalah konsumsi getah kurma mentah (raw date palm sap)Ā yang terkontaminasi kelelawar, terutama di Bangladesh.
Dari kelelawar ke hewan ternak lalu ke manusia
Pada wabah Malaysia, babi menjadi āhewan perantaraā yang mempercepat penyebaran virus ke manusia karena peternakan babi yang padat.
Dari manusia ke manusia
Ini yang paling mengkhawatirkan. Penularan antar manusia sudah terbukti terjadi, terutama lewat kontak dekat seperti merawat pasien atau kontak dengan cairan tubuh.
Ā
Walaupun virus Nipah belum menular semudah influenza atau COVID-19, kemampuannya menyebar antar manusia membuatnya masuk daftar patogen prioritas.
Ā
Ā
Gejala Virus Nipah: Bisa Mirip Flu, Tapi Berujung Radang Otak
Gejala awal virus Nipah sering terlihat seperti penyakit biasa, misalnya:
Demam
Sakit kepala
Nyeri otot
Batuk
Sakit tenggorokan
Namun pada banyak kasus, infeksi berkembang cepat menjadi kondisi berat seperti:
Gangguan pernapasan akut
Penurunan kesadaran
Kejang
Ensefalitis (radang otak)
dan dapat menyebabkan koma hingga kematian.
Ā
Seberapa Mematikan Virus Nipah?
Virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian (Case Fatality Rate) yang tinggi, menurut WHO dalam beberapa wabah bisa mencapai 40ā75%.
Angka ini dipengaruhi oleh:
Kesiapan sistem kesehatan
Kecepatan deteksi kasus
Akses ICU dan ventilator
Kemampuan tracing dan isolasi
Inilah alasan virus Nipah dianggap sebagai ancaman global, meskipun kasusnya belum sebanyak virus lain. Sampai saat ini, belum ada obat antivirus khusus yang disetujui secara luas untuk virus Nipah. Pengobatan yang dilakukan umumnya berupa perawatan suportif, seperti:
Bantuan pernapasan
Terapi cairan
Pengobatan komplikasi neurologis
Ā
Pencegahan virus Nipah
Walaupun terdengar menakutkan, pencegahan virus Nipah sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana:
Hindari konsumsi buah yang jatuh dan tampak digigit kelelawar
Cuci buah dengan baik sebelum dimakan
Hindari kontak dengan hewan liar atau hewan ternak yang sakit
Gunakan masker dan sarung tangan saat merawat orang sakit jika ada dugaan wabah
Laporkan kasus demam berat yang tidak biasa ke fasilitas kesehatan
Ā
Ancaman virus Nipah bukanlah alasan untuk panik, tetapi menjadi alasan untuk lebih peduli pada kesehatan lingkungan, keamanan pangan, dan kebiasaan hidup bersih. Karena bagaimanapun juga, pencegahan terbaik selalu dimulai sebelum wabah terjadi.
Ā
Author : dr. Devina Nataliany
Ā
Daftar Pustaka:
Ang, B.S.P., Lim, T.C.C. and Wang, L. (2018) āNipah virus infectionā, Journal of Clinical Microbiology, 56(6), pp. 1ā8.
Broder, C.C., Weir, D.L. and Reid, P.A. (2016) āHendra virus and Nipah virus animal vaccinesā, J Vaccine, 34(30), pp. 3525ā3534.
Ching, P.K.G., de los Reyes, V.C., Sucaldito, M.N. et al. (2015) āOutbreak of henipavirus infection, Philippines, 2014ā, Emerging Infectious Diseases, 21(2), pp. 328ā331.
DeBuysscher, B.L., Scott, D., Marzi, A. et al. (2016) āSingle-dose live-attenuated Nipah virus vaccines protect African green monkeys from lethal challengeā, npj Vaccines, 1, pp. 1ā9.
Epstein, J.H., Anthony, S.J., Islam, A. et al. (2020) āNipah virus dynamics in bats and implications for spillover to humansā, Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), 117(46), pp. 29190ā29201.
Gurley, E.S., Hegde, S.T., Hossain, K. et al. (2017) āConvergence of humans, bats, trees, and culture in Nipah virus transmission, Bangladeshā, Emerging Infectious Diseases, 23(9), pp. 1446ā1453.
Lo Presti, A., Cella, E., Giovanetti, M. et al. (2016) āOrigin and evolution of Nipah virusā, Journal of Medical Virology, 88(3), pp. 380ā388.
Playford, E.G., Munro, T., Mahler, S.M. et al. (2020) āSafety and pharmacokinetics of a human monoclonal antibody against Hendra virus (m102.4): a phase 1 studyā, The Lancet Infectious Diseases, 20(4), pp. 445ā454.
Plowright, R.K., Reaser, J.K., Locke, H. et al. (2019) āLand use-induced spillover: a call to action to safeguard environmental, animal, and human healthā, The Lancet Planetary Health, 3(6), pp. e237āe238.
Skowronski, D.M., Astell, C., Brunham, R.C. et al. (2021) āSevere acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) and Nipah virus: pandemic threats requiring coordinated global responseā, Clinical Infectious Diseases, 73(12), pp. e4748āe4754.
Who.int. (2024). Nipah virus disease - India. [online] Available at: https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2026-DON593.
.png)

_edited.png)






Komentar