Masih Muda Bisa Kena Batu Empedu? Jangan Sepelekan Pola Makan dan Diet Ekstrem!
- 58 menit yang lalu
- 4 menit membaca

Batu empedu sering dianggap sebagai penyakit yang hanya dialami oleh orang tua. Padahal, saat ini batu empedu juga mulai banyak ditemukan pada usia produktif, terutama pada individu dengan pola makan tidak sehat, obesitas, maupun yang menjalani diet ekstrem. Lalu, sebenarnya apa yang menyebabkan batu empedu terbentuk?
Sebelum memahami penyebabnya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai cairan empedu. Cairan empedu terdiri dari campuran air, elektrolit, asam empedu, lecithin, fosfolipid, kolesterol, bilirubin atau pigmen empedu, mukus, protein, hingga sisa metabolisme obat-obatan.
Ketika keseimbangan komposisi cairan empedu terganggu, maka dapat terbentuk endapan yang lama-kelamaan menjadi batu empedu. Secara umum, batu empedu dibagi menjadi dua jenis, yaitu batu kolesterol dan batu pigmen.
Apa Fungsi Cairan Empedu?
Cairan empedu memiliki berbagai fungsi penting bagi tubuh, antara lain:
Membantu proses pembuangan kolesterol dari tubuh
Membantu penyerapan lemak dan vitamin larut lemak
Memiliki sifat antimikroba di usus halus
Membantu regulasi berbagai sel di hati dan usus
Karena fungsinya yang penting, gangguan pada sistem empedu dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Kenapa Orang Muda Bisa Mengalami Batu Empedu?
Meskipun data spesifik di Surabaya belum dipublikasikan, angka kejadian batu empedu di beberapa negara Asia cukup tinggi. Di India, batu empedu diperkirakan dialami sekitar 1 dari 16 pria dan 1 dari 5 wanita. Sementara di Taiwan, diperkirakan terjadi pada 1 dari 9 laki-laki maupun perempuan.

Salah satu penyebab yang diduga meningkatkan risiko batu empedu pada usia muda adalah pola makan modern atau western diet yang tinggi kalori, lemak, dan kolesterol, termasuk konsumsi junk food secara berlebihan.
Kenapa Obesitas dan Diet Ketat Sama-Sama Berisiko?
Obesitas meningkatkan produksi kolesterol
Pada individu dengan obesitas atau pola makan tinggi lemak, terjadi penumpukan lemak di hati. Tubuh kemudian memproduksi lebih banyak kolesterol untuk membantu mendistribusikan lemak tersebut.
Akibatnya, kadar kolesterol yang dibuang melalui cairan empedu meningkat dan mempermudah pembentukan batu empedu kolesterol.
Diet ketat juga dapat memicu batu empedu
Sebaliknya, penurunan berat badan yang terlalu cepat juga berisiko menyebabkan batu empedu. Saat tubuh mengalami penurunan berat badan drastis, kolesterol dari jaringan tubuh akan dibongkar dan dibawa kembali ke hati.
Kolesterol tersebut akhirnya dibuang melalui cairan empedu. Di sisi lain, asupan makanan yang sangat sedikit membuat kontraksi kandung empedu berkurang sehingga kolesterol lebih mudah mengendap dan membentuk batu.
Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Batu Empedu?
Faktor risiko batu empedu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat dimodifikasi.
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi
1. Usia
Semakin bertambah usia, risiko batu empedu semakin meningkat.
2. Jenis kelamin perempuan
Wanita, terutama usia subur, memiliki risiko lebih tinggi karena pengaruh hormon terhadap sekresi cairan empedu dan fungsi kandung empedu.
3. Faktor keturunan
Risiko batu empedu lebih tinggi pada individu yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat batu empedu.
4. Etnis tertentu
Beberapa kelompok etnis seperti Indian Amerika Utara dan Hispanik memiliki angka kejadian batu empedu yang lebih tinggi.
Faktor risiko yang dapat dimodifikasi
1. Obesitas
Wanita dengan BMI lebih dari 35 memiliki risiko batu empedu hingga 7 kali lebih besar dibandingkan wanita tanpa obesitas.
2. Diet tinggi lemak dan kolesterol
Pola makan tinggi lemak, kolesterol, kalori, dan karbohidrat dapat meningkatkan risiko batu empedu kolesterol.
3. Penurunan berat badan terlalu cepat
Diet ekstrem atau penurunan berat badan lebih dari 1,5 kg per minggu dapat memicu pembentukan batu empedu.
4. Kurang aktivitas fisik
Kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko batu empedu, sedangkan aktivitas fisik rutin dapat membantu menurunkan risikonya.
5. Penyakit metabolik
Diabetes, obesitas sentral, trigliserida tinggi, dan HDL rendah merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan batu empedu.
6. Penggunaan hormon tertentu
Pada wanita, penggunaan terapi hormon estrogen, KB hormonal, dan kehamilan berulang dapat meningkatkan risiko.
7. Penyakit tertentu dan obat-obatan
Sirosis hati, penyakit Crohn, cystic fibrosis, hingga penggunaan obat tertentu seperti ceftriaxone juga dapat meningkatkan risiko batu empedu.
Apakah Batu Empedu Selalu Menimbulkan Gejala?
Tidak selalu. Sekitar 80% penderita batu empedu bahkan tidak mengalami gejala atau disebut silent symptoms.
Gejala biasanya muncul ketika terjadi peradangan atau sumbatan pada saluran empedu. Keluhan yang sering dirasakan antara lain:
Nyeri berat di ulu hati atau perut kanan atas
Nyeri menjalar ke punggung atau bahu kanan
Mual dan muntah
Nyeri muncul beberapa jam setelah makan
Rasa penuh di perut
Nyeri biasanya berlangsung selama 30 menit hingga beberapa jam sebelum mereda.
Bagaimana Penanganan Batu Empedu?
Penanganan batu empedu bergantung pada kondisi dan keluhan pasien. Tidak semua batu empedu membutuhkan tindakan operasi.
Jika batu empedu sudah menyebabkan keluhan yang mengganggu atau menimbulkan komplikasi, dokter akan menentukan terapi yang paling sesuai berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Kebiasaan yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Batu Empedu
Untuk membantu menurunkan risiko batu empedu, beberapa kebiasaan sehat yang dapat dilakukan antara lain:
Mengonsumsi makanan tinggi serat
Mengurangi makanan tinggi lemak dan kolesterol
Menjaga berat badan ideal
Rutin beraktivitas fisik minimal 30 menit sehari
Menurunkan berat badan secara bertahap dan tidak ekstrem
Apa yang Sebaiknya Dihindari?
Beberapa kebiasaan berikut dapat meningkatkan risiko batu empedu:
Konsumsi junk food berlebihan
Diet tinggi lemak dan kalori
Obesitas
Diet ekstrem dan penurunan berat badan drastis
Kurang aktivitas fisik
Batu empedu tidak hanya dapat dialami oleh usia lanjut, tetapi juga pada usia muda akibat pola hidup yang kurang sehat. Obesitas, pola makan tinggi lemak, hingga diet ekstrem dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu.
Karena itu, penting untuk menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, dan menghindari penurunan berat badan yang terlalu cepat agar kesehatan empedu tetap terjaga.
Jika Anda mengalami nyeri perut kanan atas, mual berulang, atau keluhan yang mengarah ke batu empedu, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Hubungi WhatsApp Poliklinik RS Darmo di 0896-3009-8900 untuk informasi dan janji temu pemeriksaan.
Referensi :
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Gallstones.
Portincasa P, et al. Gallstone disease: Symptoms and diagnosis.
Stinton LM, Shaffer EA. Epidemiology of Gallbladder Disease.
Author : dr. Rhesa Prasetya
.png)

_edited.png)



Komentar