Sakit Maag atau GERD? Kenali Gejalanya Agar Tidak Salah Minum Obat!
- 32 menit yang lalu
- 3 menit membaca

Banyak orang sering tertukar dan menganggap semua masalah lambung adalah sakit maag. Padahal, secara medis, ada perbedaan sakit maag dan GERD yang cukup signifikan dari segi gejala dan area yang terdampak.
Apa Itu Sakit Maag?
Maag sebenarnya adalah bahasa Belanda dari lambung, namun istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan rasa tidak nyaman pada ulu hati. Berikut adalah ciri-ciri sakit maag yang paling sering dirasakan:
Lokasi Nyeri Rasa sakit atau tidak nyaman biasanya terpusat di area ulu hati atau perut bagian atas.
Gejala Khas
Perut terasa kembung, begah, dan penuh.
Sering bersendawa.
Muncul rasa mual hingga muntah.
Keluhan di area ulu hati ini sebagian besar memang diakibatkan oleh gangguan pada lambung. Gangguan ini dipicu oleh pola makan yang tidak teratur, konsumsi makanan pedas dan kecut yang berlebihan, stres, hingga infeksi bakteri. Selain itu ada makanan tertentu yang mungkin tidak dapat ditoleransi sehingga dapat menimbulkan keluhan pada orang tertentu. Selain itu, gangguan di area ulu hati ini dapat disebabkan oleh organ tubuh lain selain lambung, misalnya kantong empedu, saluran empedu, pankreas, hingga jantung.

Apa itu GERD?
GERD adalah singkatan dari Gastro Esophageal Reflux Disease. Berbeda dengan maag, GERD terjadi ketika katup antara kerongkongan (esophagus) dan lambung melemah sehingga asam lambung naik dan mengiritasi kerongkongan. Simak ciri-ciri GERD berikut ini:
Sensasi Terbakar (Heartburn): gejala paling khas adalah rasa panas atau terbakar di dada (heartburn) yang bisa menjalar hingga ke kerongkongan.
Regurgitasi adalah kondisi di mana cairan asam lambung atau sisa makanan terasa naik kembali ke mulut, sehingga meninggalkan rasa pahit atau asam yang tidak nyaman di lidah.
Gejala Lain dari GERD dapat berupa :
Batuk kering kronis.
Suara menjadi serak.
Merasa ada ganjalan di tenggorokan.
Gejala ini biasanya memburuk setelah Anda mengonsumsi makanan dalam porsi besar atau saat berbaring terlentang setelah makan.
Jadi, Manakah yang Lebih Berbahaya?
Baik GERD maupun sakit maag sama-sama beresiko membahayakan kesehatan. Sakit maag yang berulang perlu pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter untuk mencari tahu penyebabnya. Sedangkan GERD juga memerlukan perhatian khusus karena berpotensi menyebabkan kerusakan dinding kerongkongan jika dibiarkan berkepanjangan.
Bagaimana cara penanganannya?
Baik sakit maag akibat gangguan lambung maupun GERD memiliki beberapa kesamaan terkait perubahan gaya hidup yang perlu dilakukan dan pengobatannya, antara lain:
Porsi makan lebih kecil dengan frekuensi lebih sering dapat mengurangi keluhan dibandingkan porsi makan besar dengan frekuensi lebih sedikit.
Hindari berbaring kurang dari 2 jam setelah makan.
Hindari makanan yang terlalu pedas, terlalu kecut/ asam, makanan yang terlalu berlemak, atau makanan lain yang dapat menimbulkan keluhan. Makanan ini dapat berbeda antara satu orang dengan orang lain. Contoh, ada orang yang ulu hatinya tidak nyaman setelah makan nangka, padahal orang lain tidak ada keluhan setelah makan nangka. Maka sebaiknya orang tersebut menghindari nangka.
Hindari penggunaan baju luar, dalaman, atau celana yang terlalu ketat karena menyebabkan tekanan pada area perut.
Stop merokok dan hindari konsumsi minuman beralkohol.
Gunakan sandaran lebih tinggi pada daerah kepala hingga punggung saat tidur. Jangan hanya menggunakan bantal di area ke
Meskipun antasida bisa dibeli secara bebas, kita perlu menggunakannya secara bijaksana. Hati-hati penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Jangan menggunakan obat penghambat produksi proton (proton pump inhibitor) secara sembarangan tanpa pengawasan dokter.
Apabila keluhan terkait sakit maag atau GERD tersebut tidak membaik dalam waktu 1 minggu atau malah semakin memberat (misalnya juga disertai rasa sesak, BAB warna kehitaman, muntah berwarna kemerahan atau hitam, sesak nafas, badan lemas, berdebar), maka sebaiknya perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mencari tahu penyebabnya.
Baik sakit maag akibat gangguan lambung maupun GERD memiliki dampak yang mengganggu kenyamanan, produktivitas, hingga menyebabkan gangguan yang lebih serius. Jangan biarkan keluhan ini berlarut-larut. Konsultasikan keluhan pencernaan Anda bersama dokter spesialis di RS Darmo untuk diagnosis yang akurat.
Hubungi WhatsApp Poliklinik di +62 896-3009-8900 untuk janji temu.
Referensi :
Ness-Jensen E, Hveem K, El-Serag H, Lagergren J. Lifestyle Intervention in Gastroesophageal Reflux Disease. Clin Gastroenterol Hepatol. 2016 Feb;14(2):175-82.e1-3. doi: 10.1016/j.cgh.2015.04.176. Epub 2015 May 6. PMID: 25956834; PMCID: PMC4636482.
American College of Gastroenterology. 2022. About ACID REFLUX & GERD. https://webfiles.gi.org/docs/patients/GERD-infographic-final_2022.pdf
Yetman, D. (2023, July 25). What Does It Mean if GERD Doesn’t Respond to Treatment with Proton Pump Inhibitors? Healthline. https://www.healthline.com/health/gerd/gerd-not-responding-to-ppi
Stomach ulcer. (2026, January 21). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22314-stomach-ulcer
Author : dr. Rhesa Prasetya
.png)

_edited.png)



Komentar