VARISES: KENALI GEJALA, DAMPAK, DAN PENTINGNYA DETEKSI DINI
- 6 hari yang lalu
- 3 menit membaca
Diperbarui: 3 hari yang lalu

Varises atau varicose veinsĀ adalah salah satu kelainan pembuluh darah balik atau vena di bawah kulit. Varises tampak sebagai vena yang melebar, memanjang, dan berkelok-kelok, biasanya muncul di kaki.
Varises terjadi ketika dinding vena dan katup vena melemah, sehingga darah tidak dapat kembali ke jantung dengan efisien dan menumpuk di vena (Chen, 2025). Kelainan ini cukup umum; prevalensi varises pada populasi dewasa berkisar sekitar 10ā30%, dengan angka lebih tinggi pada perempuan dan meningkat seiring bertambahnya usia (Setiawan & Hengky, 2024).
FAKTOR RISIKO
Faktor risiko varises seperti dikutip dalam Aslam et al. (2022) dan Chen (2025) meliputi:
Usia: Semakin bertambahnya usia, kecenderungan risiko terjadinya varises semakin tinggi. Hal ini dikarenakan dinding vena dan katup vena cenderung melemah dan kurang elastis, sehingga aliran balik darah menjadi kurang efisien. Hal ini menyebabkan terbentuknya vena yang melebar dan terjadi varises.
Riwayat keluarga: Faktor genetik berperan dalam angka kejadian varises. Individu dengan anggota keluarga bervarises memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita varises.
Obesitas: Berat badan yang berlebih menambah tekanan di rongga perut dan vena tungkai bawah, sehingga vena pada area kaki bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah kembali ke atas dan meningkatkan kemungkinan terbentuknya varises.
Kehamilan: Selama kehamilan terjadi peningkatan volume darah, tekanan di rongga perut oleh janin yang membesar, serta perubahan hormon yang dapat berkontribusi pada peningkatan risiko varises di tungkai bawah.
Pekerjaan dengan posisi berdiri atau duduk lama: Aktivitas yang membuat seseorang tetap berdiri atau duduk tanpa perubahan posisi dalam waktu lama mengurangi ankle pumpĀ yang juga bertugas dalam membantu aliran balik darah. Hal ini menyebabkan angka kejadian varises lebih tinggi.
Kurang aktivitas fisik: Rendahnya aktivitas fisik berhubungan dengan penurunan kontraksi otot kaki sehingga aliran vena kurang optimal dan meningkatkan angka kejadian varises.

GEJALA VARISES
Banyak orang awalnya hanya menganggap varises sebagai ābenjolan venaā yang tidak berbahaya, padahal kelainan ini sering kali disertai gejala yang mengganggu kualitas hidup. Berikut beberapa gejala varises:
Vena menonjol berwarna biru/gelap, tampak berkelok-kelok di betis, paha, atau pergelangan kaki.
Rasa berat, pegal, nyeri, atau kedutan di kaki, terutama setelah berdiri/duduk lama dan biasanya memburuk di akhir hari.
Bengkak ringan di pergelangan kaki ke bawah.
Terkadang terdapat kesemutan atau rasa panas di kaki bawah.
KOMPLIKASI VARISES
Varises bukan hanya masalah estetika; jika tidak segera diatasi, kelainan vena ini dapat berkembang menjadi penyakit vena kronis (Chronic Venous Disease) dengan berbagai dampak dan komplikasi.
Beberapa dampak yang telah dilaporkan dalam jurnal ilmiah antara lain:
Perubahan kulit: kering, gatal, berpigmentasi kecokelatan/kehitaman, dan terjadi lipodermatosclerosisĀ (kulit menjadi lebih kaku dan tebal).
Tukak vena (venous ulcer) di sekitar pergelangan kaki yang sulit sembuh dan berulang.
Perdarahan dari vena yang menonjol; pada kasus tertentu perdarahan bisa banyak dan tiba-tiba, sehingga menjadi kegawatdaruratan.
ThrombophlebitisĀ atau inflamasi/peradangan pada pembuluh darah vena yang mengakibatkan aliran darah menjadi terhambat. Hal ini menyebabkan nyeri, bengkak, kemerahan, dan area kulit terasa hangat atau mengeras.
Peningkatan risiko trombosis vena dalam (Deep Vein Thrombosis/DVT) jika aliran vena tidak diperbaiki. DVT berbahaya terutama jika gumpalan (thrombus) terlepas dan mengakibatkan emboli yang berpotensi fatal dan mengancam nyawa.
PEMERIKSAAN DAN DETEKSI DINI
Pemeriksaan fisik oleh tenaga medis dan USG Doppler pembuluh darah merupakan langkah awal untuk mendeteksi varises. Pemeriksaan ini sangat penting untuk menilai fungsi katup vena dan mendeteksi adanya sumbatan atau aliran balik darah yang tidak normal (reflux). Semakin dini varises ditemukan, semakin besar peluang keberhasilan terapi konservatif tanpa harus melalui prosedur invasif.
THERAPY
Penanganan varises bertujuan untuk meredakan gejala, mencegah komplikasi, serta memperbaiki estetika. Terapi yang dapat dilakukan meliputi:
Terapi Konservatif: Penggunaan stoking kompresi khusus, olahraga teratur (seperti jalan kaki atau berenang), menghindari berdiri atau duduk terlalu lama, serta menjaga berat badan ideal.
Skleroterapi: Prosedur penyuntikan cairan khusus ke dalam vena yang rusak untuk menutup pembuluh darah tersebut.
Terapi Laser (EVLA): Prosedur minimal invasif menggunakan energi laser untuk menutup vena yang mengalami varises.
Pembedahan: Tindakan pengangkatan vena yang rusak jika kondisi sudah sangat parah atau terjadi komplikasi berat.
Daftar Pustaka
Aslam, M.R. et al. (2022) Global impact and contributing factors in varicose vein disease development. SAGE Open Medicine, 10, pp.1ā9. doi:10.1177/20503121221118992.Ā https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36051783/
Chen, T. (2025) Pathophysiology and genetic associations of varicose veins. Angiology, 76(10), pp.789ā802. doi:10.1177/00033197241227598.Ā https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38226614/
Setiawan, K., & Hengky, T. (2024). Diagnosis and Management of Limb Varicose Veins. Cermin Dunia Kedokteran, 51(5), 261ā166.Ā https://doi.org/10.55175/cdk.v51i5.1012
Ā
Author: dr Devina Nataliany
.png)

_edited.png)



Komentar