Bukan Cuma Bikin Nyeri, Ini Komplikasi Asam Urat yang Perlu Diwaspadai

Banyak orang menganggap asam urat hanya menyebabkan nyeri dan bengkak pada persendian, terutama di jempol kaki. Padahal, jika tidak ditangani dengan baik dan kadar asam urat tetap tinggi dalam jangka panjang, kristal asam urat dapat terus menumpuk di dalam tubuh.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan gout (nyeri sendi akibat penumpukan kristal asam urat) semakin sering terjadi, munculnya benjolan keras yang disebut tofus, kerusakan sendi, hingga masalah pada ginjal.
Karena itu, asam urat bukan hanya perlu ditangani ketika sedang kambuh. Pengelolaan jangka panjang diperlukan untuk menjaga kadar asam urat tetap terkontrol dan mencegah komplikasi.Ā
Apa Hubungan Asam Urat dengan Gout?
Sebelum membahas komplikasinya, penting untuk memahami bahwa asam urat dan gout bukan istilah yang sepenuhnya sama.
Asam urat merupakan zat yang terbentuk ketika tubuh memecah purin. Dalam kondisi normal, asam urat akan dibuang terutama melalui urin/ air seni.
Jika kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi, kristal asam urat dapat terbentuk dan menumpuk di persendian. Penumpukan kristal inilah yang dapat memicu peradangan dan menyebabkan gout, yaitu salah satu bentuk radang sendi.
Serangan gout dapat menyebabkan sendi terasa sangat nyeri, bengkak, kemerahan, dan hangat.
Masalahnya, jika kadar asam urat tetap tinggi dalam jangka panjang, kristal dapat terus menumpuk meskipun seseorang sedang tidak mengalami serangan nyeri.
Mengapa Asam Urat yang Tidak Terkontrol Bisa Menyebabkan Komplikasi?
Saat kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi, kristal asam urat dapat terbentuk dan menumpuk di sekitar persendian. Penumpukan ini dapat memicu peradangan yang menyebabkan sendi terasa nyeri, bengkak, merah, dan panas.
Jika kadar asam urat tetap tinggi dalam waktu lama, kristal tersebut dapat terus menumpuk. Akibatnya, serangan asam urat bisa semakin sering terjadi dan sendi dapat mengalami kerusakan secara perlahan.
Bahkan, pada kondisi yang sudah berlangsung lama, penumpukan kristal dapat membentuk benjolan keras yang disebut tofus.
Karena itu, pengobatan asam urat bukan hanya bertujuan untuk menghilangkan nyeri saat sedang kambuh. Yang tidak kalah penting adalah menjaga kadar asam urat tetap terkontrol agar penumpukan kristal tidak terus terjadi.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan kadar asam urat secara berkala untuk menentukan apakah pengobatan yang diberikan sudah mencapai target. Pada pasien gout yang menjalani terapi penurun asam urat, umumnya merekomendasikan kadar asam urat di bawah 6 mg/dL.
6 Komplikasi Asam Urat yang Perlu Diwaspadai
Asam urat yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai masalah, terutama pada sendi dan jaringan di sekitarnya.
1. Serangan Gout Semakin Sering Terjadi
Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah serangan gout yang berulang.
Pada awalnya, seseorang mungkin hanya mengalami serangan sesekali. Namun, jika kadar asam urat tidak dikendalikan, serangan dapat terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama.
Nyeri juga dapat muncul pada lebih banyak persendian.
Serangan gout tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat membuat seseorang kesulitan berjalan, bekerja, berolahraga, atau melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Kerusakan Sendi
Kristal asam urat yang terus menumpuk dapat menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan pada struktur sendi.
Jika berlangsung dalam waktu lama, gout dapat menyebabkan perubahan pada sendi dan menurunkan fungsi geraknya.
Kerusakan sendi akibat gout juga menjadi salah satu kondisi yang menjadi pertimbangan untuk memulai terapi penurun kadar asam urat.
3. Munculnya tofus
Pernah melihat benjolan keras di sekitar jari kaki, jari tangan, siku, atau telinga pada seseorang yang memiliki kadar asam urat yang tinggi?
Benjolan tersebut bisa merupakan tofus, yaitu kumpulan kristal asam urat yang menumpuk di jaringan.
Tofus biasanya berkembang setelah gout berlangsung cukup lama dan kadar asam urat tetap tinggi. Benjolan dapat terasa keras dan pada kondisi tertentu dapat menyebabkan nyeri, mengganggu pergerakan sendi, atau mengalami luka pada permukaan kulit.
Keberadaan tofus merupakan salah satu tanda bahwa gout sudah mengalami perjalanan yang lebih lanjut dan menjadi alasan kuat untuk mendapatkan terapi penurun kadar asam urat.
4. Batu Ginjal
Kristal yang terbentuk akibat kadar asam urat tinggi tidak hanya dapat menumpuk di persendian.
Pada sebagian orang, kristal atau batu yang mengandung asam urat dapat terbentuk di saluran kemih dan menyebabkan batu ginjal.
Batu ginjal dapat menimbulkan gejala seperti:
Nyeri hebat di pinggang atau sisi tubuh.
Nyeri yang dapat menjalar ke perut bagian bawah atau selangkangan.
Nyeri saat buang air kecil.
Urine berdarah.
Mual atau muntah.
5. Gangguan Fungsi Ginjal
Ginjal memiliki peran penting dalam membuang asam urat dari tubuh. Karena itu, hubungan antara gout, kadar asam urat, dan penyakit ginjal cukup kompleks.
Orang dengan gout juga dapat memiliki penyakit ginjal kronis, sementara gangguan fungsi ginjal dapat membuat tubuh lebih sulit membuang asam urat.
Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa setiap orang dengan kadar asam urat tinggi pasti akan mengalami gagal ginjal. Hubungan antara tingginya kadar asam urat dan perkembangan penyakit ginjal masih kompleks dan dipengaruhi berbagai faktor.
Karena itu, pasien dengan gout sebaiknya mendapatkan pemantauan kondisi ginjal, terutama jika memiliki faktor risiko atau penyakit penyerta lainnya.
6. Kualitas Hidup Menurun
Komplikasi asam urat tidak hanya berkaitan dengan perubahan pada tubuh.
Serangan nyeri yang berulang dapat membuat seseorang kesulitan berjalan, bekerja, berolahraga, tidur, atau menjalankan aktivitas sehari-hari.
Jika gout sudah menyebabkan kerusakan sendi atau tofus, keterbatasan aktivitas dapat berlangsung lebih lama.
Inilah alasan mengapa pengobatan gout sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika rasa sakit muncul, tetapi juga bertujuan untuk mencegah serangan dan komplikasi di kemudian hari.
Apakah Asam Urat Bisa Menyebabkan Penyakit Jantung?
Gout dan kadar asam urat tinggi sering ditemukan bersamaan dengan berbagai kondisi seperti hipertensi, penyakit ginjal, obesitas, dan penyakit kardiovaskular.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara hiperurisemia dan penyakit kardiovaskular. Namun, hubungan tersebut tidak selalu berarti bahwa kadar asam urat secara langsung menyebabkan penyakit jantung. Banyak faktor lain yang juga berperan.
Karena itu, pasien dengan gout tetap perlu memperhatikan kesehatan secara menyeluruh, termasuk tekanan darah, kadar gula darah, berat badan, fungsi ginjal, serta faktor risiko penyakit jantung lainnya.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Komplikasi Asam Urat?
Risiko komplikasi dapat meningkat apabila gout tidak ditangani dengan baik, terutama pada orang yang:
Mengalami serangan gout berulang.
Memiliki kadar asam urat yang terus tinggi.
Sudah memiliki tofus.
Mengalami kerusakan sendi akibat gout.
Memiliki penyakit ginjal.
Memiliki tekanan darah tinggi atau penyakit metabolik lainnya.
Tidak rutin menjalani pengobatan yang sudah diresepkan dokter.
Namun, memiliki kadar asam urat tinggi saja tidak selalu berarti seseorang sudah mengalami gout atau pasti akan mengalami komplikasi. Diagnosis dan keputusan pengobatan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Bagaimana Cara Mencegah Komplikasi Asam Urat?
Mencegah komplikasi berarti tidak hanya mengatasi nyeri ketika serangan terjadi, tetapi juga mengendalikan gout dalam jangka panjang.
1. Periksa Kadar Asam Urat Secara Berkala
Pemeriksaan kadar asam urat dapat membantu dokter memantau apakah pengobatan sudah mencapai target.
Pada pasien yang menggunakan terapi penurun asam urat, dokter dapat melakukan pemeriksaan secara berkala dan menyesuaikan dosis berdasarkan hasil pemeriksaan serta kondisi pasien.
2. Minum Obat Sesuai Anjuran Dokter
Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat asam urat sendiri hanya karena sudah tidak merasa nyeri.
Beberapa obat digunakan untuk mengendalikan kadar asam urat dalam jangka panjang, bukan hanya untuk mengatasi rasa sakit saat serangan.
3. Perhatikan Pola Makan
Pola makan dapat menjadi salah satu bagian dari pengelolaan gout.
Dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan pola makan yang sesuai, terutama dengan memperhatikan konsumsi makanan dan minuman yang dapat meningkatkan risiko serangan pada individu tertentu.
Namun, perubahan pola makan saja belum tentu cukup untuk mengendalikan gout pada semua pasien. Pada kondisi tertentu, terapi penurun kadar asam urat tetap diperlukan.
4. Jaga Berat Badan Tetap Sehat
Jika memiliki berat badan berlebih, penurunan berat badan secara bertahap dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat dan membantu pengelolaan berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan gout.
Hindari melakukan diet ekstrem atau penurunan berat badan secara drastis tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
5. Cukupi Kebutuhan Cairan
Minum cukup air dapat membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi dan mendukung fungsi ginjal.
Namun, kebutuhan cairan setiap orang berbeda. Jika Anda memiliki penyakit ginjal, jantung, atau kondisi lain yang mengharuskan pembatasan cairan, konsultasikan kebutuhan cairan dengan dokter.
Kapan Harus ke Dokter?
Jangan menunggu sampai nyeri semakin sering atau muncul benjolan pada sendi untuk memeriksakan gout.
Sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika:
Nyeri dan bengkak pada sendi sering kambuh.
Serangan gout semakin sering atau berlangsung lebih lama.
Muncul benjolan keras di sekitar sendi atau bagian tubuh lainnya.
Nyeri sendi membuat aktivitas sehari-hari terganggu.
Memiliki kadar asam urat tinggi dan belum pernah mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Memiliki penyakit ginjal atau faktor risiko penyakit ginjal.
Mengalami nyeri pinggang hebat atau gejala yang mengarah pada batu ginjal.
Obat yang diberikan sebelumnya tidak lagi membantu mengendalikan keluhan.
Jika nyeri sendi muncul secara tiba-tiba, sangat berat, disertai bengkak dan kemerahan, pemeriksaan dokter juga penting karena tidak semua nyeri sendi disebabkan oleh asam urat.
Komplikasi asam urat dapat lebih serius daripada sekadar nyeri pada persendian.Ā Jika gout tidak terkontrol, serangan dapat semakin sering dan pada jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan sendi serta terbentuknya tofus.
Asam urat juga berkaitan dengan masalah pada ginjal, termasuk risiko terbentuknya batu ginjal. Sementara itu, hubungan antara hiperurisemia dan penyakit ginjal maupun kardiovaskular cukup kompleks sehingga pasien perlu mendapatkan evaluasi secara menyeluruh.
Karena itu, jangan hanya mengobati asam urat ketika sedang kambuh. Pengendalian kadar asam urat dalam jangka panjang, pemeriksaan rutin, serta pengobatan sesuai anjuran dokter penting untuk membantu mencegah komplikasi.
Jika Anda sering mengalami nyeri dan bengkak pada persendian atau memiliki kadar asam urat yang tinggi, segera konsultasikan kondisi Anda dengan dokter di RS Darmo SurabayaĀ untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Hubungi WhatsApp Poliklinik di +62 896-3009-8900Ā untuk membuat janji temu.
Referensi:
FitzGerald, J. D., et al. (2020). 2020 American College of Rheumatology Guideline for the Management of Gout.Ā Arthritis Care & Research, 72(6), 744ā760.
Cohen, R. E., Pillinger, M. H., & Toprover, M. (2020). Something Old, Something New: the ACR Gout Treatment Guideline and Its Evolution from 2012 to 2020.Ā Current Rheumatology Reports, 23(1), 4.
Japanese Society of Gout and Uric & Nucleic Acids. (2021). Uric Acid as a Risk Factor for Chronic Kidney Disease and Cardiovascular Disease.
Author: dr. Rhesa Prasetya
.png)

_edited.png)



Komentar